Gula untuk Peradaban

Nguuuuuuuung………………….. Dengung bunyi sirine tiba-tiba terdengar. Panjang dan membahana, memecah keheningan udara di Desa Ngijo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Jarum jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul dua siang. Kelompok-kelompok pekerja berjalan bergegas. Susul-menyusul memasuki Pabrik Gula (PG) Tasikmadu yang dari arah desa tampak dikelilingi dinding tinggi bercat putih. Mirip benteng.

Teks dan Foto oleh Reynold Sumayku. Dicetak dalam buklet berjudul Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Lama Semarang untuk kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017 di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang; 10-17 September 2017. Diproduksi oleh BukaPeta untuk Subdit Warisan Budaya Benda Dunia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tulisan pertama dari empat tulisan dalam buklet (lihat bagian bawah halaman untuk daftar tulisannya). Diunggah ke situs ini sebagai portofolio.

“Sirine panjang itu tanda agar para pekerja sif siang segera masuk pabrik,” jelas Purnomo dari Bagian Tanaman di PG Tasikmadu. “Nanti setengah jam dari sekarang, jam setengah tiga, akan ada sirine panjang lagi. Itu tanda supaya pekerja sif pagi keluar pabrik.”

Selama 30 menit waktu transisi, para pekerja sif pagi menyampaikan perkembangan dan kondisi terakhir dalam proses penggilingan tebu, kepada penggantinya dari sif siang. “Supaya transisi pekerjaan berjalan mulus dan proses produksi tidak terhenti,” lanjut Purnomo.

PG Tasikmadu beroperasi 24 jam sehari tanpa jeda, sepanjang musim giling tebu yang setiap tahun biasanya berlangsung mulai Mei hingga Oktober. Dalam sehari, proses penggilingan tebu dan produksi gula ditangani bergantian oleh pekerja lewat tiga sif. Karyawan sif pagi bertugas mulai pukul enam pagi. Sif siang mulai pukul dua siang. Sedangkan pekerja sif malam memulai tugas pukul 10 malam.

“Kapasitas giling PG Tasikmadu pada saat ini adalah 31.500 kuintal (3.150 ton) per hari. Proses tersebut bisa menghasilkan 2.000-an kuintal atau 200 ton gula per hari. Tapi itu masih di bawah target kami yang inginnya bisa mencapai kisaran 2.500 kuintal atau 250 ton per hari,” jelas Eka Christina dari Bagian Administrasi, Keuangan, dan Umum di PG Tasikmadu.

PG Tasikmadu adalah satu dari sejumlah pabrik gula yang didirikan pada masa kolonial Hindia Belanda dan masih bertahan hingga hari ini. Sekarang, PG Tasikmadu berada dalam pengelolaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX.

Pada zaman sebelum kemerdekaan Indonesia, gula merupakan primadona industri di Pulau Jawa. Tercatat, pada tahun 1925, terdapat 202 pabrik gula yang beroperasi dengan gilang-gemilang di Jawa. Kapasitas ekspor pada zaman itu menempatkan Pulau Jawa sebagai produsen gula nomor dua terbesar di dunia. Hanya di bawah Kuba. Dua negeri itu, bersama Kerajaan Jerman, menghasilkan lebih dari sepertiga produksi gula dunia.

PG Tasikmadu adalah bagian dari sisa-­sisa kejayaan tersebut. Didirikan pada 1871 oleh junjungan Praja Mangkunegaran saat itu yakni K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811­-1881), Tasikmadu sebenarnya adalah pabrik gula kedua di wilayah kekuasaan Praja Mangkunegaran. Pabrik gula pertama yang didirikan di sana adalah Colomadu pada 1861. Seperti halnya Tasik­madu, PG Colomadu juga didirikan atas kehendak Mangkunegara IV.

Lokasi penyerahan, penimbangan, dan penilaian kualitas tebu sebelum proses penggilingan di pabrik gula Tasikmadu.

Pada masa itu, di Pulau Jawa tengah berlangsung cultuurstelsel (1830-1870) yang dipaksakan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bangsa Indonesia kelak mengenangnya sebagai era tanam paksa (baca juga: Suikerfabriek: Kejayaan Dulu Riwayatmu Kini). Perkebunan-perkebunan besar dikelola oleh penguasa kolonial. Tidak sembarang pengusaha, apalagi petani, boleh mendirikan perkebunan dan pabrik. Namun, mengingat statusnya sebagai raja setempat, Mangkunegara IV diperbolehkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk membangun pabrik gula. Tak pelak lagi, Mangkunegara IV menjadi satu-satunya orang Jawa yang memiliki pabrik gula di zaman itu.

Pabrik iki openono, sanajan ora nyugihi, nanging nguripi, kinaryo papan pangupo jiwone kawulo dasih (Pabrik ini peliharalah, meski tidak membuat kaya, tetapi menghidupi, memberikan perlindungan, sebagai jiwa rakyat),” ucap Mangkunegara IV saat mendirikan PG Tasikmadu.

Di masa sekarang, suikerfabriek alias PG Colomadu di sebelah barat Kota Surakarta tidak lagi beroperasi. Warisan budaya Mangkunegara IV dalam industri gula yang aktif tinggal tersisa di PG Tasikmadu.

 

DARI GULA RAKYAT KE REVOLUSI INDUSTRI 

Masyarakat Jawa telah membudidayakan tebu, bahan baku gula, jauh sebelum kedatangan Bangsa Belanda pada abad ke-17 melalui kongsi dagangnya, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).

Dalam buku berjudul Sugar, Steam and Steel: The Industrial Project in Colonial Java, 1830-1885 (2014), penulis G. Roger Knight menguraikan bahwa sebelum 1820, pengolahan tebu menjadi gula di Jawa dilakukan secara tradisional. Metode tradisional ini mirip dengan “gaya Tiongkok”. Knight menyebutkan, cara pengolahan serupa juga ditemukan di berbagai tempat lain di Asia Tenggara.

“Pabrik (sebelum revolusi industri mencapai Jawa) adalah konstruksi sederhana. Umumnya terdiri dari dua rol kayu tegak yang digerakkan oleh kerbau yang kepalanya diikatkan ke suatu balok. Cairan yang dihasilkan (dari penggilingan itu) kemudian direbus menjadi gula dalam wajan terbuka,” tulis Knight.

Setelah VOC ditutup pada 1799, penguasa kolonial Hindia Belanda melihat bahwa hasil bumi, khususnya gula, adalah salah satu potensi terbesar bagi sumber pemasukan ke kas mereka. Karena Itulah, penguasa kolonial berupaya mengembangkan potensi ini. Mereka mengambil keuntungan dengan cara menggabungkan teknologi industri yang tengah berkembang di Dunia Barat saat itu dengan agrikultur di Jawa.

Mesin yang disebut vaccuum pan dianggap peralatan penting dalam teknologi industri gula di zaman itu. Pada 1860-an, Kuba sebagai negeri produsen gula terbesar memiliki 77 pabrik yang dilengkapi vaccuum pan dan peralatan terkait lainnya yang digerakkan tenaga uap di dalam “ruang masak”. Sementara itu, pada era yang sama, tulis Knight, “Jika perhitungan ini benar, Jawa—dengan tidak kurang dari 56 (pabrik yang dilengkapi) vaccuum pan—tidaklah terlalu jauh tertinggal.”

Pekerja pabrik memeriksa kualitas sampel cairan tebu hasil masak. Salah satu bagian dari rangkaian proses pembuatan gula di pabrik gula Tasikmadu.

Knight sebenarnya meragukan akurasi data yang diperolehnya itu. Namun, seandainya pun agak meleset angkanya, dari segi teknologi, fakta tersebut tetap menunjukkan keseriusan penguasa kolonial dalam menggenjot produksi gula. Kebetulan, pada masa itu produksi tebu memang menonjol dibanding hasil bumi lainnya. “Gula di Jawa bukanlah monokultur,” tulis Knight, “(namun) terutama dilakukan akibat absennya hasil bumi lainnya.”

Krisprantono, seorang doktor dalam bidang design & historic setting yang juga pengajar di Fakultas Teknik Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, berpendapat senada. Khususnya tentang teknologi industri gula zaman kolonial. “Semula, rakyat menggunakan tenaga manusia dan hewan untuk menggiling tebu menjadi gula. Dengan pabrik, penguasa kolonial membuat proses tersebut sistematis dan berskala besar. Pabrik menggunakan mesin tenaga uap. Sejak itu proses produksi gula pun berubah drastis.”

 

RAJA GULA ASIA TENGGARA DARI SEMARANG

Walaupun dirintis sejak era tanam paksa, masa jaya industri gula kolonial terjadi justru setelah sistem itu dihentikan pada 1870. “Gula menjadi produk terpenting antara tahun 1880 hingga krisis ekonomi dunia pada sekitar 1930,” jelas Krisprantono.

Hal ini tak lepas dari kebijakan baru pemerintah kolonial. Sebagai pengganti cultuurstelsel, mereka meluncurkan Agrarische Wet (setara UU Pokok Agraria) pada 1870. Kebijakan itu memungkinkan pihak swasta menguasai dan mengelola lahan-lahan perkebunan luas. Dapat dikatakan, sejak saat itulah era liberalisasi industri dimulai di Jawa.

Di masa ini pula, sosok bernama Oei Tiong Ham (1866-1924) muncul di Semarang dan kemudian melegenda. Seperti halnya Mangkunegara IV di Surakarta, Oei Tiong Ham juga bagian dari segelintir warga lokal yang pada masa kolonial Belanda mampu melihat dan memanfaatkan peluang. Saat itu, peluang bisnis gula memang terbuka berkat revolusi industri, kebutuhan gula di pasar dunia, dan kebijakan penguasa.

Lahir di Semarang, Oei Tiong Ham mewarisi jiwa bisnis dari ayahnya, Oei Tjie Sien, pemilik perusahaan Kian Gwan. Awalnya, ladang bisnis Oei adalah hasil bumi seperti kopi, karet, kapuk, gambir, tapioka, serta opium. Namun, pada 1880-an, Oei dengan sigap mengakuisisi lima pabrik gula yang bangkrut. Masing-masing pabrik gula Pakis (Pati), Rejoagung (Madiun), Ponen (Jombang), Tanggulangin (Sidoarjo), dan Krebet (Malang).

Ia juga memproklamirkan berdirinya Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Kelak, perusahaan itu menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Dari kantor pusat di Semarang, ia melebarkan sayap dengan membuka kantor cabang. Mulai dari Batavia hingga Makassar. Di mancanegara, kantor cabang dan jaringan dagangnya dibuka di Singapura, Bangkok, Kalkuta, Bombay, Karachi, Shanghai, Hongkong, London, dan New York.

Oei menjadi sosok terkaya di Asia Tenggara. Koran De Locomotief terbitan Semarang di masa itu pernah menulis bahwa ia adalah “orang terkaya di antara Shanghai dan Australia.”

Sejumlah jejak kejayaan bisnis Oei Tiong Ham kini masih dapat disaksikan. Di kota lama Semarang, terdapat setidaknya tiga gedung eks kantor OTHC atau milik sang taipan. Yang pertama di Jalan Kepodang Nomor 25 (kini kantor PT Rajawali Nusindo atau RNI). Yang kedua, gedung bertingkat dua dengan banyak pintu dan jendela, di sudut pertemuan antara Jalan Kepodang dan Jalan Suari. Gedung itu dahulu kantor NV Kian Gwan, cikal bakal OTHC. Yang ketiga, gedung milik Oei yang pernah digunakan sebagai kantor Monod Diephuis & Co di Jalan Kepodang Nomor 11-13 (sekarang menjadi galeri).

Di luar kawasan kota lama Semarang, tepatnya di tepi Kali Baru dekat Jalan Komodor Laut Yos Sudarso juga terdapat gudang yang dahulu dikelola OTHC. Suatu lahan kosong penuh pepohonan dan semak di Jalan Sultan Agung dahulu merupakan balai penelitian gula yang didirikannya. Kemudian, jangan dilupakan bangunan mirip istana yang terletak agak jauh ke arah barat daya dari kawasan kota lama. Posisinya di kawasan Balai Kambang, tepatnya di Jalan Kyai Saleh. Dahulu, gedung megah itu salah satu kediaman Oei Tiong Ham. Sekarang gedung itu dikelola oleh Kantor Otoritas Jasa Keuangan Jawa Tengah dan DIY.

“Pada masa kolonial, untuk skala perkebunan, hampir semua tebu dan pabrik gula dimiliki oleh Belanda. Rakyat hanya menjadi petaninya. Jadi, pada masa itu tidak banyak orang non-Eropa seperti Oei Tiong Ham,” jelas Krisprantono. “Penguasa kolonial Belanda pun sangat segan kepadanya.”

Bagaimanapun, pada 1920, Oei Tiong Ham pindah ke Singapura. Di sanalah ia kemudian menjemput akhir hayat pada 1924.

 

Lembaran-lembaran Gula untuk Peradaban dalam buklet berjudul Jalur Gula: Kembang Peradaban Kota Semarang. Dicetak untuk kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017 di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang; 10-17 September 2017. Diproduksi oleh BukaPeta untuk Subdit Warisan Budaya Benda Dunia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tulisan pertama dari empat tulisan dalam buklet. Desain buklet: Fredy Susanto.

 

JALUR DISTRIBUSI PEMBENTUK KOTA

Gula menjadi produk ekspor utama oleh penguasa kolonial Hindia Belanda sejak sekurang-kurangnya tahun 1874. Dalam Changing Economy in Indonesia: A Selection of Statistical Source Material from the Early 19th Century up to 1940 oleh Mansvelt, W.M.F. (editor), disebutkan bahwa gula selalu unggul. Melampaui kopi, teh, rempah-rempah, tembakau, kopra, timah dan biji timah, minyak tanah, dan karet.

Selain teknologi permesinan dalam industri, ada faktor penting lainnya yang mendorong percepatan produksi dan distribusi industri gula. Tidak lain, faktor ini adalah jaringan rel kereta api, yang juga buah kemajuan berkat revolusi industri.

Pada saat PG Colomadu (1861) dan Tasikmadu (1871) didirikan, jaringan rel kereta api belum terbentang di Pulau Jawa. Artinya, kemungkinan besar, hasil panen tebu dibawa ke Colomadu maupun Tasikmadu dengan pedati yang ditarik sapi, kerbau, atau kuda. Dengan cara itu terdapat keterbatasan dalam hal jarak tempuh dan kecepatan.

Setelah ada rel kereta, tebu dari perkebunan yang jauh jaraknya pun bisa dikirimkan ke pabrik. Dengan waktu lebih cepat pula. Keuntungan ini bukan hanya dalam suplai tebu, melainkan juga dalam distribusi hasil pengolahannya, yakni gula. Bahkan, lebih daripada itu, kombinasi antara industri gula dan jaringan rel kereta api ikut merangsang tumbuhnya wilayah-wilayah lain. Terutama wilayah pesisir utara Jawa, yang menjadi awal dari pengiriman hasil bumi ke pasar dunia.

Di bagian timur Jawa, Surabaya menjadi awal distribusi produk gula dari banyak pabrik. Di bagian tengah Jawa, Semarang bahkan tumbuh sebagai kota perdagangan dan pelabuhan akibat jaringan distribusi serupa.

Pada era kolonial itu sempat dikenal istilah suikerlijn. Istilah itu mengacu kepada jalur distribusi gula yang mengarah ke Semarang, terutama dari berbagai pabrik di arah barat (Cirebon, Banyumas, Tegal, Pemalang, Peka­longan saat ini). Kendati demikian, gula dari arah selatan dan tenggara (wilayah Yogyakarta, Surakarta, Klaten, dan Sragen saat ini) juga menonjol. Pada masa itu, pabrik gula terdekat dari Semarang diperkirakan adalah Tjepiring (Cepiring) di Kendal. Jaraknya sekitar 40 kilometer ke arah barat.

Pemandangan Kali Baru ke arah mercusuar. Nieuwe Havenkanaal, namanya pada masa kolonial, merupakan hasil codetan dari Kali Semarang.

“Belanda membangun rel kereta langsung menuju pelabuhan,” sebut Krisprantono. Yang disebut pelabuhan pada masa itu adalah muara dari suatu “codetan” lurus ke arah barat laut, dari Kali Semarang menuju laut lepas. Belanda membangun kanal itu sebagai jalan pintas ke laut dan diperkirakan selesai antara 1870-1872. Awalnya, kanal buatan itu disebut Nieuwe Havenkanaal, kemudian populer sebagai Kali Baru. Pelabuhan di muaranya menjadi awal pengiriman produk gula dari aneka pabrik di bagian tengah Pulau Jawa.

Adapun kawasan kota lama Semarang adalah tempat administrasi dan keuangan terkait hasil bumi, sebelum pengapalannya ke pasar dunia. Ketika era gula bergejolak, di sana berdiri pula kantor-kantor perusahaan terkait dengan industri gula. “Mulai dari kantor ekspor-impor, pialang, bank, asuransi, hingga perwakilan negara lain. Ada Siam (Thailand), Inggris, dan Norwegia,” jelas Krisprantono.

Tampak pada masa sekarang, kantor-kantor administrasi dan perdagangan itu umumnya memang terletak di bagian barat kota lama. Menghadap ke Kali Semarang.

Di kali yang kini terkenal dengan Jembatan Mberok-nya itu (dulu Sociëteitsbrug), hanya kapal-kapal kecil yang bisa lewat dan bersandar di tepian yang menghadap ke kota lama. “Kali Semarang dekat kota lama agaknya pelabuhan lokal, hanya untuk bahan makanan yang terkait dengan wilayah Semarang. Gudang-gudang gula tidak banyak terdapat di kota lama karena waktu itu lebih banyak di dekat pelabuhan,” paparnya.

Kali Semarang sendiri, pada masa kolonial mungkin sedikit lebih lebar dibanding sekarang. Begitu pula kedalamannya, tidak seperti sekarang yang dangkal dan penuh lumpur. Hingga setidaknya tahun 1920-an atau 1930-an, Kali Semarang diperkirakan antara 5-7 meter dalamnya. Dapat dilayari oleh kapal-kapal kayu berukuran kecil dan sedang, yang masuk dari pesisir. Foto-foto dari zaman kolonial mengonfirmasi hal ini.

“Semua fakta itu menjadi bagian dari ruang sejarah kota lama Semarang dalam konteks masa kolonial,” kata Albertus Kriswandhono. Nama Kris yang kedua ini, Kriswandhono, juga adalah ahli arsitektur perkotaan dari Fakultas Teknik Unika Soegijapranata, sekaligus penasihat Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) di Semarang.

Sisa-sisa menara pengawas (uitkijk) di tepian Kali Semarang dekat kawasan kota lama.

Sejumlah jejak sejarah yang terkait masih dapat disaksikan hingga kini. Menara syahbandar (uitkijk) di Jalan Kampung Sleko dulu berfungsi untuk mengawasi lalu lintas kapal di Kali Semarang dekat area perkantoran dagang. Sementara di bagian muara Kali Baru, mercusuar Willem III (diperkirakan berdiri pada 1884) digunakan untuk mengawasi aktivitas pelabuhan, sekaligus panduan untuk kapal-­kapal dari arah Laut Jawa.

Menurut kajian Kriswandhono, kawasan kota lama Semarang mulai dibangun sebelum era industri gula. Pada 1677-1678, Kerajaan Mataram mengizinkan VOC membangun benteng di Semarang. Lokasi pilihan VOC adalah kelokan Kali Semarang. Persisnya di Kampung Sleko saat ini.

Benteng bersudut lima (vijfhoek) itu, pada masa setelahnya dirobohkan oleh VOC. Sebagai penggantinya, mereka membangun benteng baru, sekaligus paritnya, di sekeliling kota yang mereka rancang pula. Kawasan di dalam benteng itulah yang sekarang dikenal sebagai kota lama Semarang (baca juga: Kota Lama Semarang dalam Bingkai Sejarah: Citadel yang Berganti Wajah).

 

SEMARANG GUDANG

Kaitan antara kota lama Semarang dengan agrikultur dan jaringan rel kereta api masa kolonial, belakangan ini semakin tersingkap berkat kajian-kajian ilmiah. “Di Semarang, tidak mungkin ada rel kereta kalau tidak ada kepentingan distribusi produk agrikultur,” jelas Kriswandhono.

Stasiun dan jaringan rel kereta api pertama di Nusantara dibangun oleh penguasa kolonial Belanda di Semarang. Suatu petunjuk lain mengenai peran kota ini dalam perdagangan dan distribusi hasil bumi. “Namun, saat ini ada fakta arkeologis bahwa stasiun kereta pertama di Semarang sudah tenggelam,” tambahnya.

Sebagian kalangan masyarakat mengira, stasiun kereta pertama di Semarang adalah Stasiun Semarang Gudang. Namun, hal itu tidak tepat.

Pada zaman kolonial, nama stasiun itu dieja Samarang Goederenstation, lalu menjadi Samarang Goedang. Kini Semarang Gudang. Stasiun itu dioperasikan oleh NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij), jawatan kereta api swasta zaman kolonial. Kendati demikian, Semarang Gudang bukanlah stasiun kereta api pertama di Semarang.

Mengenai hal ini memang terdapat beberapa informasi simpang-siur. Orang mungkin cenderung menunjuk Semarang Gudang sebagai stasiun pertama di Semarang karena sisa-sisanya masih ada dan jelas. Berupa satu bangunan memanjang.

Untuk mencapainya, dari bagian timur kawasan kota lama Semarang, tujulah arah utara melalui Jalan Ronggowarsito. Setelah melihat kawasan rawa yang luas di sebelah kanan, belok ke kanan memasuki suatu gang di kawasan permukiman Kemijen. Gang itu dinamai Jalan Spoorlaan 1.

Sisa-sisa Samarang Goederenstation yang dikelilingi air. Kawasan ini dahulu disebut Spoorlaan karena banyaknya bangunan dan fasilitas terkait kereta api.

Berjalan terus menelusuri gang permukiman itu, kita akan menyaksikan sisa-sisa stasiun Semarang Gudang di sebelah kanan. Kondisinya nyaris hancur dan dikelilingi genangan air. Jauh pada latar belakangnya tampak instalasi-instalasi penyimpanan bahan bakar berbentuk silinder nan menjulang milik Pertamina.

“Pada 1990-an hingga 2000-an, seingat saya stasiun ini masih berfungsi,” sebut Sunarno, warga sepuh yang tinggal di dekat sisa bangunan stasiun. Lagi-lagi sejauh ingatannya, kawasan itu semakin parah terdampak rob sejak 1990-an.

Sunarno juga menceritakan, sejak itu, ia berkali-kali melakukan pengurugan agar rumahnya aman dari banjir. “Pintu rumah saya yang asli sekarang ada di bawah tanah. Tetangga saya rumahnya dulu berlantai dua. Sekarang, lantai rumah mereka adalah yang dulunya lantai dua,” kisahnya.

 

PENCARIAN STASIUN KERETA PERTAMA

Semarang Gudang merupakan stasiun untuk barang dan terus digunakan hingga era kemerdekaan Indonesia. Menurut data PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Semarang Gudang dihentikan pengoperasiannya, lantas ditinggalkan, pada 2008. Sebabnya, kawasan itu seringkali terdampak rob. Sekarang, lahan di sekeliling sisa bangunan stasiun digunakan oleh masyarakat setempat sebagai tambak.

Seorang staf PT KAI di Museum Lawang Sewu memberikan informasi namun tidak bersedia dikutip namanya. Menurutnya, bangunan pertama terkait rel kereta di Semarang adalah halte. “Halte Kemijen,” katanya.

“Itu halte yang dibangun seiring rel kereta api pertama antara Semarang dengan Tanggung,” jelasnya. Tanggung sekarang masuk wilayah Kabupaten Grobogan, juga di Jawa Tengah. “Yang sekarang disebut Stasiun Tanggung, pada zaman itu sebenarnya juga halte. Halte adalah tempat perantara di antara dua stasiun besar,” tambahnya.

Halte kereta, jelasnya, pada masa sekarang masih dapat dijumpai di Pulau Jawa. Di halte, penumpang bisa naik dan turun, namun tidak bisa membeli karcis kereta. Karcis hanya bisa dibeli di stasiun.

“Halte juga tempat pertemuan para pemeriksa jalur kereta api. Dari dua arah berlawanan, mereka berjalan menelusuri rel untuk memeriksa kelayakannya. Di halte mereka bertemu dan mengakhiri tugas,” jelasnya.

“Lokasi Halte Kemijen dulu di antara Semarang Gudang dan Depo Pertamina,” katanya. Bangunannya telah lama hancur dan terendam air. Jika kita berdiri di Semarang Gudang dan memandang ke arah selatan, letaknya setelah rel kereta yang membentang di atas bagian lahan yang tanahnya ditinggikan. Rel itu kini digunakan untuk kereta yang melaju dari Semarang ke arah timur, atau sebaliknya.

Bagaimanapun, tim pegiat sejarah kereta api dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) menyebutkan fakta berbeda mengenai Halte Kemijen. Menurut mereka, yang dianggap Halte Kemijen sebenarnya rumah sinyal kereta. Namun, diperkirakan eksis hanya antara 1935-1938.

Rumah sinyal di Kemijen itu milik SJS (Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij), perusahaan kereta api swasta lainnya pada masa kolonial. Letaknya pada jalur kereta ke arah timur—dari Semarang menuju Demak, Pati, dan Cepu.

Eks kantor Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS).

Terkait dengan jalur yang sama, sebelumnya pada 1882, SJS membangun suatu stasiun di lokasi yang sekarang merupakan Pasar Jurnatan. Stasiun Jurnatan itu adalah stasiun sentral, berukuran cukup megah. Sedangkan kantor SJS sendiri terletak persis di simpang Jalan Ronggowarsito dan Jalan Pengapon. Kini masih dapat dilihat walau kondisinya rusak berat.

Apabila informasi ini tepat, berarti sudah jelas: Semarang Gudang, rumah sinyal Kemijen, dan Jurnatan bukanlah stasiun kereta pertama di Semarang. Lalu, manakah yang sebenarnya stasiun pertama?

Wilayah tempat Halte Kemijen dan Semarang Gudang berdiri, sekarang dikenal sebagai kawasan Kemijen atau Tambaksari, dahulu disebut Spoorlaan mengingat banyaknya instalasi kereta api. Di sana, sebenarnya masih ada sisa jejak dari satu stasiun lain. Stasiun ini disebut “Stasiun Semarang” (dieja “Samarang” pada era kolonial).

Sesungguhnya, stasiun inilah yang disebutkan sebagai “jalur pertama antara Samarang-Tangoeng” oleh kolonial Belanda dalam suatu iklan bertarikh 1867. Stasiun “Samarang” ini milik NIS.

Seremoni yang mengawali pembangunan rel dilakukan langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Baron Sloet van de Beele, pada 17 Juni 1864. Adapun penggunaannya mulai 10 Agustus 1867. Sebagai stasiun ujung (koopstation) NIS, “Samarang” sekaligus juga kantor pusat maskapai kereta tersebut.

Stasiun ini kemudian ditutup oleh kolonial Belanda di awal abad ke-20 karena sering diterjang rob. Saat ini, sisa-sisa reruntuhan stasiun “Samarang” sulit ditemukan. Posisinya pun tersamar di tengah permukiman penduduk.

Pada 2009, pegiat pelestarian dan sejarah kereta api sekaligus anggota BPK2L, Tjahjono Rahardjo, melacak sisa-sisa “Stasiun Samarang” bersama tim Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).

Dalam blog-nya, kala itu Tjahjono menuliskan hasil penyelidikan tim IRPS: “Kami tidak menduga akan menjumpai sesuatu yang signifikan. Namun, begitu menemukan posisinya di tengah permukiman padat, kami melihat beberapa objek yang tampak familiar. Segera kami mencocokkannya dengan foto lama yang kami miliki, dan terkejut karena objek-objek itu persis sama dengan yang tampak dalam foto.”

Tim IRPS menemukan, saat itu bagian peron dan dinding “Stasiun Samarang” telah digunakan sebagai bagian dari struktur rumah warga. Sulit dikenali secara sepintas.

Ketika dihubungi melalui saluran telepon, Tjahjono menjelaskan bahwa penyelidikan tersebut didorong keraguan jika Kemijen disebut sebagai stasiun ataupun halte pertama. “Dari foto zaman Belanda, bangunannya justru berciri rumah sinyal. Jelas bukan stasiun. Yang membangun pun perusahaan SJS, bukan NIS. Tidak mungkin jika bangunan itu yang disebutkan dalam iklan terkait jalur NIS pada 1867,” jelas Tjahjono.

“Sebenarnya, dari jalan di depan Semarang Gudang pun masih bisa tampak sisa bagian atap Stasiun Samarang itu,” kata Tjahjono. “Namun, dinding yang dahulunya bagian peron sekarang ada di dalam rumah warga. Di depannya juga sudah ada dinding lain. Kawasan itu kini memang permukiman yang padat.”

 

BERANGKAT PUKUL TUJUH

Suatu arsip lama bertanggal 1 Agustus 1867 berisi jadwal yang dirilis NIS pada masa itu untuk kereta Samarang (Semarang)-Tangoeng (Tanggung). Jadwal itu berlaku untuk 10 Agustus 1867.

Menurut arsip tersebut, perhentian kereta ada dua: Broemboeng (Brumbung) dan Allas-Toewa (Alastua). Kereta berangkat dari Semarang pukul 07.00 pagi dan tiba di Tanggung pukul 08.00. Dari Tanggung, kereta NIS itu berangkat pukul empat sore dan tiba di Semarang pukul lima sore.

Tiket jenis gemengde trein (kereta campuran) dijual kepada publik. Harga tiket kelas 1 adalah tiga gulden. Sedangkan tiket kelas dua dan tiga masing-masing seharga 1,5 dan 0,42 gulden.

Salah satu versi iklan pembukaan jalur kereta pertama di Hindia Belanda, dari Semarang ke Tanggung. Iklan ini dimuat di surat kabar De Locomotief terbitan Semarang pada 30 Juli 1867 (delpher.nl).

Jadwal NIS itu juga mencantumkan catatan tambahan: “Panduan resmi jam keberangkatan dan kedatangan kereta api, tarif dan ketentuan yang berbeda untuk pengangkutan penumpang, barang bawaan, barang dagangan, kuda, pedati dan ternak tersedia luas untuk didapatkan di semua stasiun dan toko buku dengan harga 0,5 gulden.”

Demikianlah. Kemudian, saat Stasiun Samarang hendak ditinggalkan, dibangun dua gedung penggantinya sekaligus, mulai 1904 hingga 1907: Stasiun Tawang dan Het Hoofdkantoor van de NIS (kantor pusat NIS) atau yang sekarang dikenal sebagai gedung Lawang Sewu. Penyempurnaan kedua bangunan itu diperkirakan terus berlangsung hingga setidaknya 1914. Sejak itu, Stasiun Tawang berfungsi sebagai stasiun utama untuk penumpang, sedangkan Lawang Sewu sepenuhnya menjadi kantor NIS (kini museum). Sejak era ini pula, Semarang Gudang menjadi stasiun khusus untuk barang.

Sementara itu, perusahaan kereta api swasta lainnya yakni SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij), membangun jalur kereta dari Semarang ke Cirebon. Kurun waktunya antara 1897-1914 kemudian dilanjutkan pada 1912-1921. Jalur itu melewati wilayah pesisir ke arah barat. Di Semarang, stasiunnya adalah Pendrikan, kemudian pindah ke Poncol.

Pada masa sekarang, dari kesemua stasiun kereta tersebut, hanya Stasiun Tawang, Stasiun Poncol, dan gedung Lawang Sewu yang tersisa utuh dan tetap digunakan. Sedangkan Stasiun Samarang, Stasiun Semarang Gudang, rumah sinyal Kemijen, Stasiun Pendrikan, dan Stasiun Jurnatan telah menghilang keseluruhan atau tersisa bekas-bekasnya saja.

 

WARISAN BUDAYA BERNILAI PENTING

Sejumlah kalangan berpendapat, silang informasi mengenai sejarah stasiun pertama dan jaringan rel kereta api di Semarang membutuhkan kajian ilmiah secara lebih mendalam. Kemudian, sisa-sisa jejaknya perlu dilestarikan pula.

Alasannya sederhana. Nama-nama itu bukan sekadar stasiun-stasiun pertama di Semarang, melainkan juga di Indonesia. “Walaupun sisa bangunan stasiun itu tidak bisa diselamatkan lagi, mungkin perlu ada semacam tugu peringatan,” sebut Tjahjono.

Dalam kesempatan berbeda, Kriswandhono sepakat. “Jika membicarakan konservasi kawasan, memang perlu mengikutsertakan sejumlah lokasi lain di luar kawasan itu yang juga terkait,” katanya. (Baca juga: Pelestarian Kota Lama Semarang: Revitalisasi Separuh Jalan).

Muda-mudi menikmati senja di pelataran eks gedung De Javasche Bank di Jalan Letjend Soeprapto yang kini difungsikan sebagai kafe dan galeri seni.

Di dalam kawasan kota lama Semarang sendiri, kini masih terdapat lebih dari 200 bangunan bernilai sejarah. Sebagian di antaranya terkait langsung dengan industri gula. Dengan demikian, menurut Kriswandhono, Semarang—khususnya kawasan kota lama—adalah warisan budaya yang berharga.

“Namun,” lanjutnya, “penghargaan terhadap warisan budaya kota lama Semarang tidak bisa secara terpisah dari konteks kebudayaannya. Kota lama Semarang harus dilihat sebagai bagian dari mata rantai perdagangan dan industri zaman kolonial sehingga nilainya kelihatan.”

Proses terbentuknya Semarang sebagai kota pelabuhan, perdagangan, dan jasa; menurut Kriswandhono dan Krisprantono mengandung nilai-nilai penting. Karena itu, mengetahui persis sejarah dan lokasi bangunan-bangunan bersejarah adalah bekal sangat berharga dalam upaya pelestariannya.

Seraya melestarikan, generasi sekarang dapat menjadikannya pelajaran untuk menuju masa depan.—Reynold Sumayku

 

Slideshow pabrik gula Tasikmadu dalam hitam putih. Versi komplet dapat dilihat di sini.
Slideshow kawasan kota lama Semarang. Versi komplet dapat dilihat di sini.

 


Serial tulisan dalam buklet Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Lama Semarang:
01. Gula untuk Peradaban
02. Kota Lama Semarang dalam Bingkai Sejarah: Citadel yang Berganti Wajah
03. Suikerfabriek: Kejayaan Dulu Riwayatmu Kini
04. Pelestarian Kota Lama Semarang: Revitalisasi Separuh Jalan
Peta Sisi A: Kawasan Kota Lama Semarang (beserta konteksnya)
Peta Sisi B: Jalur Kereta Pertama (terkait industri gula zaman kolonial)

Tautan: Situs kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017  |  BukaPeta