Jalan Panjang Penyandang Cula

Seorang dokter bedah yang mengabdi kepada VOC dan bertugas di Bencoleen (Bengkulu) pada tahun 1793 memeriksa tubuh seekor badak yang telah mati ditembak orang, sekitar 16 kilometer dari Fort Marlborough.

Badak itu jantan dan lebih kecil ukurannya dibanding jenis-jenis badak yang telah dikenal sebelumnya. Tingginya tak sampai satu setengah meter diukur pada bahu. Panjangnya hampir dua setengah meter mulai dari hidung hingga ekor. William Bell, si dokter bedah, menduga bahwa badak malang itu masih muda saat mati—berdasarkan kondisi tulang dan gigi.

Oleh Reynold Sumayku untuk majalah digital Jelajah.id (tautan tidak lagi berfungsi)

Bell mencatat, “Terdapat enam geraham pada setiap sisi di bagian rahang bawah. Lidahnya cukup halus. Kupingnya kecil dan tirus, berkerut dan ditumbuhi rambut hitam pendek. Kupingnya mirip dengan yang dimiliki oleh badak bercula satu. Badak ini bercula dua. Cula yang terbesar terletak di atas hidung, mengacung ke atas dengan panjang 23 sentimeter. Cula lebih kecil setinggi 10 sentimeter, terletak di belakang cula utama. Keseluruhan kulitnya kasar, ditutupi oleh rambut pendek hitam yang tipis. Tidak terdapat bentukan menyerupai perisai tubuh, seperti pada badak bercula satu.”

Badak Sumatra pertama kali diperiksa dan dibuat gambarnya oleh William Bell pada 1793. Public domain.

Dokter Bell menggunakan spesies badak India (Rhinoceros unicornis) yang bercula satu sebagai perbandingan terhadap spesimen bercula dua yang ditemukan mati di Bengkulu. Badak bercula satu India telah dikenal luas berkat jasa ahli taksonomi terkemuka, Carolus Linnaeus, pada 1758.

Awal 2014, Bill Konstant dari International Rhino Foundation pada suatu teksnya di situs Mongabay menyebutkan, dokter Bell mungkin belum mengetahui bahwa pada masa itu di Sumatra masih terdapat spesies badak bercula satu—kini dikenal sebagai badak Jawa—pula. Bagaimanapun, oleh Bell, gambar badak yang mati di Bengkulu itu, berikut deskripsinya, dikirimkan kepada seorang ahli alam yang kelak menjadi presiden Royal Society of London, yakni Joseph Banks, yang lantas menerbitkan karya tulis mengenai spesimen tersebut pada tahun yang sama.

Barulah pada tahun 1814, hampir dua abad setelah pemeriksaan anatomi oleh dokter Bell, atau tepat 200 tahun silam, badak Bengkulu itu dianugerahi nama ilmiah oleh Johann Fischer von Waldheim, seorang ilmuwan berdarah Jerman. Perkenalkan, inilah badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis).

Badak Sumatra merupakan spesies terkecil di antara lima spesies badak dunia, juga yang paling berambut. Pada masa itu badak Sumatra hidup di wilayah luas sekali. Mulai dari India, Cina, Indocina, Sumatra, dan Kalimantan. Para cendekiawan bahkan mengidentifikasi bahwa terdapat tiga sub-spesies badak Sumatra ini. Masing-masing adalah lasiotis di utara, harrisoni di Kalimantan, dan sumatrensis di Semenanjung Malaya dan Sumatra. Lasiotis sekarang telah punah, sedangkan dua lainnya hidup dalam populasi kecil dan sangat rentan.

Di antara dua spesies badak di Indonesia, badak Jawa yang terakhir diidentifikasikan. Dari semula dianggap “badak Sumatra yang lain” kemudian diresmikan dengan nama tersendiri yakni Rhinoceros sondaicus pada 1822. Sekitar seabad kemudian, badak Jawa menghilang dari daratan Sumatra dan memulai keterkucilannya dalam populasi sangat kecil di Jawa—salah satu satwa yang paling terancam punah.

Nyaris bernasib sama buruk seperti kerabatnya, badak Sumatra kini tersisa tak sampai 200 ekor—dari semula diduga ribuan—hanya dalam waktu 200 tahun sejak pertama kali diresmikan sebagai spesies tersendiri. Mereka terus terancam, seperti nasib spesimen pertama yang mati lalu diteliti oleh dokter Bell.

Bina, badak betina berusia 30-an tahun, di Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), Taman Nasional Way Kambas. Reynold Sumayku/RSM/REY Pictures. 

 

Anugerah dari Tuhan

Andatu bergerak perlahan, berputar-putar sejenak di kandang yang luas itu, lalu menengadahkan mulutnya. Tujuannya adalah pintu. Dengan lembut ia mendorong jeruji besi itu. Gerakannya sungguh perlahan dan hati-hati. Pintu besi itu berderit sedikit, berayun, disusul bunyi besi beradu besi yang memekakkan telinga. Klontang!

Orang-orang yang sedang duduk berkerumun di salah satu sudut seketika menoleh. “Oh, mau minta keluar dia itu!” teriak Giyono, seorang perawat satwa di Sumatran Rhino Sanctuary alias Suaka Rhino Sumatra (SRS), Taman Nasional Way Kambas. Pintu besi tadi telah ditutup oleh Andatu, namun akan dibukanya lagi, kemudian ditutupnya kembali seiring ia mondar-mandir dengan gelisah. Ia tetap tidak bisa keluar kandang menuju hutan. Pasalnya, terdapat pintu lain yang terkunci di bagian luar.

Andatu adalah anakan badak Sumatra yang berumur 2,5 tahun pada Desember 2014. Beratnya mencapai 550 kilogram dan terus bertambah. Matanya berkilat-kilat jenaka, dengan sepasang kuping yang terkadang bergerak-gerak dan hidung yang sesekali mendengus-dengus.

Kami sedang berada di tepi kandang berjeruji besi seluas sekitar 100 meter persegi. Dinaungi atap terpal, kandang ini merupakan stasiun monitoring bagi badak-badak penghuni SRS. Terdapat platform untuk pemantauan, tempat pasokan makanan tambahan berupa sayuran dan buah-buahan, serta peralatan medis. Ketiga sisi tempat ini dikelilingi boma (hutan kecil yang berpagar pula), yang berbatasan dengan area hutan lebih luas sebagai habitat semi alami bagi badak.

Dibandingkan dengan Bina, seekor badak betina berusia 30-an tahun penghuni pertama SRS, kelakuan Andatu kontras sekali. Jika Bina selalu bergerak dengan tenang dan perlahan, Andatu sebaliknya. Ia tidak bisa diam. Lincah. Bahkan, ketika pintu boma dibuka, seakan-akan ia mendapatkan kibasan bendera start. Segera Andatu melesat kencang, berlari memasuki hutan.

“Kelakuan Andatu sesuai umurnya,” ucap Zulfi Arsan, dokter hewan yang memantau Andatu, kepada saya. “Jadi kalau usia badak setara dengan setengah usia manusia, kira-kira Andatu sekarang seperti anak berumur lima tahun. Tidak bisa diam dan tidak sabaran. Namanya juga anak-anak,” kelakarnya. Satu hal yang cukup mengejutkan, saat ini postur Andatu sudah hampir seperti badak dewasa.

“Setelah melihat pertumbuhan Andatu, para peneliti menyadari bahwa selama ini mungkin telah terjadi kekeliruan dalam memperkirakan umur badak liar. Dalam penjajakan populasi dan umur badak di hutan ‘kan para peneliti biasanya mengacu kepada ukuran jejak. Nah, jejak Andatu ini membuktikan bahwa umur dua tahunan pun sudah hampir seperti badak dewasa,” papar Zulfi.

Andatu di fasilitas milik SRS di Way Kambas. Reynold Sumayku.

SRS menyediakan dua wilayah hutan berpagar listrik—masing-masing wilayah luasnya 10 hektare—untuk setiap badak. Setiap wilayah hutan dihuni bergantian selama tiga bulan. “Saat sedang tidak dihuni, hutan itu kami perbaiki kembali agar menyerupai habitat alami. Tumbuhan yang ditanam juga disesuaikan dengan kebutuhan pakan badak,” jelas Zulfi.

Zona khusus bagi SRS di Way Kambas luas totalnya lebih kurang seratus hektare. Sesuai daya tampung, saat ini lima ekor badak menetap di sana: Andatu dan kedua induknya yaitu Andalas dan Ratu, Bina, serta seekor badak betina lainnya yakni Rosa.

Sehari-hari, dalam wilayah hutan masing-masing, kelima badak itu menjelajah, mencari pakan, dan terutama berkubang. Namun, setiap pagi biasanya mereka kembali ke stasiun monitoring ini untuk mendapatkan pasokan makanan tambahan dan menjalani pemeriksaan fisik-psikis. Saat “mengisi absensi” di stasiun ini, biasanya para badak muncul dengan sekujur tubuh terbungkus lumpur kering akibat berkubang. Tak pelak, rutinitas pertama yang wajib dijalani di stasiun ini adalah mandi.

Pertanyaan yang mengemuka: apakah mereka selalu “melapor” ke stasiun monitoring dengan kemauan sendiri? “Ya,” kali ini Giyono yang menjelaskan.

Dengan nada-nada yang lebih rendah Giyono meneruskan, “Ya… biasanya, ya. Biasanya mereka datang sendiri ke sini pada pagi hari karena sudah menjadi kebiasaan. Tapi kalau sehari saja tidak pulang tidak apa-apa, mungkin keasyikan berkubang. Kecuali kalau beberapa hari tidak kelihatan, barulah terpaksa kami susul ke dalam hutan lalu digiring masuk ke sini untuk diperiksa.”

Andatu tengah menjalani pemeriksaan rutin. Reynold Sumayku/RSM/REY Pictures.

Seketika kami berpandang-pandangan. Di kiri dan kanan saya berdiri seorang rekan wartawan dan para pengantar kami dari Subdit Promosi dan Pemasaran Konservasi Alam, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung, Ditjen PHKA, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Memang, kami beruntung karena pagi ini Andatu pulang ke stasiun monitoring. Kalau tidak, berarti urung berjumpa anak badak yang terkenal dan bahkan memiliki akun Facebook ini. “Wilayah hutan yang merupakan habitat semi alami itu tidak boleh dimasuki manusia saat dihuni badak,” kata Giyono. “Kami pun hanya masuk kalau memang harus menyusul seekor badak yang tak kunjung muncul.”

 

Perjuangan Luar Biasa

Ketika lahir pada 23 Juni 2012 di SRS, Andatu menjadi pusat perhatian dunia pelestarian satwa. Betapa tidak. Itu adalah kelahiran anak badak Sumatra dalam penangkaran yang pertama kali di Asia dalam 124 tahun, setelah terakhir kali di Calcutta Zoo, Kolkata (India) pada 1889.

Setelah meninggalkan stasiun monitoring untuk beristirahat di kantor SRS, saya bertemu Dedi Candra. Kini lebih aktif sebagai manajer satwa di SRS, Dedi adalah dokter hewan yang dahulu intensif menangani proses kelahiran Andatu. Dari ialah saya mengetahui bahwa, “Kelahiran anak badak Sumatra di Kolkata tidak murni hasil dari upaya pembiakan. Induk badaknya masuk ke dalam kebun binatang memang sudah dalam keadaan hamil. Karena itulah, Andatu merupakan keberhasilan pertama di Asia.”

Di luar Asia, tepatnya di Cincinnati Zoo (AS) sebelumnya sudah pernah terjadi kelahiran anak badak Sumatra, pada 2001. Saat itu para ahli berhasil mengawinkan badak betina bernama Emi dan jantan bernama Ipuh—keduanya asal Bengkulu. Anak mereka dinamai Andalas, yang sekarang tak lain adalah ayah dari Andatu. Pada 2007, Andalas dikirimkan dari Cincinnati Zoo ke SRS melalui perjalanan yang sangat melelahkan selama dua hari. Dari Jakarta hingga ke Way Kambas, iring-iringan kendaraan pengantarnya mengular sepanjang lebih dari 100 meter.

Proses adaptasi di habitat barunya di SRS dijalani Andalas selama sekitar dua tahun. Kemudian, secara bertahap ia mulai dijodohkan dengan Ratu. Nama yang terakhir ini adalah seekor badak betina yang pada tahun 2005 berhasil diselamatkan setelah berkeliaran dan berlari-lari ketakutan di perkampungan dekat batas Taman Nasional Way Kambas.

Bagaimanapun, upaya untuk mengawinkan badak Sumatra jantan kelahiran Amerika dan badak betina asli Lampung tersebut jauhlah dari kata gampang. “Badak adalah satwa yang soliter, penyendiri,” terang Dedi. “Selain itu, sifat reproduksinya sangat sulit sehingga pertumbuhan populasinya sangatlah lambat.”

Perlakuan yang hati-hati diberikan oleh para pengelola SRS dalam perkawinan antara Andalas dan Ratu. Pada 2010, Andalas berhasil mengawini Ratu sehingga dua kali membuahkan kehamilan yang kemudian gagal. “Pada Maret 2011 kembali Ratu hamil,” kenang Dedi, “setahun kemudian pada Juni 2012 baru Andatu lahir.”

Nama Andatu merupakan kependekan dari kedua induknya—Andalas dan Ratu. Nama itu berarti pula “Anugerah dari Tuhan,” ucap Dedi. Ia menjelaskan bahwa menjelang saat kelahiran, hanya tiga orang yang diizinkan berada di area khusus: Dedi sendiri, Benn Bryant (dokter hewan dari Taronga Conservation Society, Australia), dan Paul Reinhart (perawat satwa dari Cincinnati Zoo).

“Waktu itu terlalu banyak orang datang ke sini, termasuk wartawan dari mana-mana, sehingga dibuatkan sistem kunjungan bergiliran. Itu pun hanya boleh mengamati dari jauh. Saya terkadang terpaksa bersikap keras kepada wartawan mengingat proses kelahiran dan perawatan Andatu sangat sulit. Tidak boleh muncul peluang kesalahan. Pokoknya, risikonya terlalu besar. Kalau sampai Ratu stres dan kehamilannya bermasalah, entah kapan lagi kita akan berhasil,” kenang Dedi.

Lokasi Taman Nasional Way Kambas: Provinsi Lampung, Sumatra, Indonesia. Southeast Asia with Countries – Outline by FreeVectorMaps.com

Lantaran sukar bereproduksi, tidaklah mengherankan jika—setelah ikut dikacaukan oleh perburuan liar dan perusakan hutan secara konstan—populasi badak dewasa ini sangat rentan terhadap kepunahan. Kebanyakan dari mereka bertahan di wilayah-wilayah konservasi di Sumatra yang pula terus mendapat ancaman dari manusia.

Pada awal 1980-an para pelestari menyadari bahwa diperlukan upaya-upaya terobosan untuk menyelamatkan populasi badak liar. Pada 1984, IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan Asian Rhino Specialist Group merekomendasikan perlunya pendirian program-program penangkaran. Terkait dengan rekomendasi tersebut, sejumlah badak liar ditangkap dari hutan Sumatra.

Bina merupakan salah satu “alumnus” program tersebut yang sekarang masih hidup. Ditangkap di hutan Bengkulu pada 1991, ia sempat menghuni Taman Safari Indonesia sebelum dipaketkan ke SRS pada 1998. Bina termasuk penghuni terawal SRS bersama dengan badak jantan bernama Torgamba—kiriman dari kebun binatang di Inggris, dan badak betina bernama Dusun—ditangkap di Malaysia dan sempat menghuni Kebun Binatang Ragunan. Dusun mati di SRS pada 2001, sedangkan Torgamba mati beberapa tahun lalu.
Penyebabnya lebih karena faktor usia tua.

Emi dan Ipuh (kedua induk Andalas) di Cincinnati Zoo juga hasil dari program penangkapan. Kedua individu tersebut ditangkap di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat pada awal ’90-an, kemudian dikirimkan ke Cincinnati Zoo yang pernah sukses membiakkan spesies badak lain.

Pada perkembangannya, program penangkaran ex-situ (di luar habitat) di berbagai kebun binatang dunia pada dekade ’90-an ternyata gagal. Sebanyak 13 dari 18 ekor individu (sekitar 70 persen) badak yang ditangkap selama program antara tahun 1985 hingga 1992 itu justru mati dalam penangkaran. Umumnya akibat gangguan pencernaan dan penyakit ginjal.

Menjawab rangkaian kegagalan itu, SRS mulai dibangun pada 1996 sebagai upaya untuk memulai program semi in-situ dengan pendekatan berbeda. Di sini, badak Sumatra mendapatkan area hutan untuk menjelajah dan berperilaku bagaikan di habitat aslinya, namun tetap mendapatkan monitoring kesehatan dari para ahli.

Andatu, anugerah dari Tuhan, sejauh ini menjadi pertanda konsep semi in-situ cukup berhasil. Namun, tren kerusakan habitat, ancaman perburuan, serta persinggungan dengan peradaban manusia terus terjadi. Tanda tanya tentang kelangsungan hidup suatu spesies terus mengemuka.

Beberapa tahun silam saya pernah mendengar suatu ujar-ujar: “Pelestarian sebenarnya suatu upaya untuk menunda kekalahan selama mungkin.” Bagaimanapun, di balik nada pesimis itu, terdapat optimisme di kalangan pelestari. Api kecil yang terus mereka jaga agar selalu menyala.