Kota Lama Semarang dalam Bingkai Sejarah: Citadel yang Berganti Wajah

Menurut para ahli, wilayah Semarang bagian utara terbentuk dari proses pengendapan perlahan-lahan. Sekurangnya sebelum abad ke-15, mulai wilayah yang sekarang adalah Pasar Bulu ke arah utara diperkirakan masih merupakan pesisir, bahkan laut.

Apabila benar, tidak heran jika penjelajah muhibah asal Tiongkok, Laksamana Cheng Ho, dikisahkan mendarat di “Pelabuhan Simongan” pada awal abad ke-15.

Di dekat sanalah, menurut hikayat, Cheng Ho mendaratkan armadanya. Kemudian, kelompok tersebut mendirikan Kelenteng Sam Poo Kong atau Gedong Batu. Untuk membayangkan hal ini, kita perlu melupakan Banjir Kanal Barat Semarang di dekat situ, yang baru dibangun kolonial Belanda—bersamaan dengan Banjir Kanal Timur—pada awal abad ke-20.

Teks dan Foto oleh Reynold Sumayku. Dicetak dalam buklet berjudul Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Lama Semarang untuk kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017 di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang; 10-17 September 2017. Diproduksi oleh BukaPeta untuk Subdit Warisan Budaya Benda Dunia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tulisan kedua dari empat tulisan dalam buklet (lihat bagian bawah halaman untuk daftar tulisannya). Diunggah ke situs ini sebagai portofolio.

Pada abad ke-15 dan ke-16, Semarang termasuk wilayah kekuasaan Demak. Kemudian, juga pada abad ke-16, Kerajaan Mataram mengambil-alihnya. Lantas, bagaimana dengan kawasan kota lama Semarang?

Kita perlu mengetahui prosesnya dengan terlebih dahulu menyimak apa yang terjadi di Mataram pada Oktober 1676. Saat itu, ibu kota Mataram yang berlokasi di Plered (atau Pleret di wilayah Bantul sekarang) diserbu oleh pasukan perlawanan. Adalah Trunojoyo, bangsawan dari Madura, yang memimpin perlawanan itu.

Akibat serangan Trunojoyo, Raja Mataram yakni Amangkurat I terpaksa mengungsi. Kemudian raja jatuh sakit, dan akhirnya meninggal dunia di Tegal. Penggantinya di takhta Mataram, Amangkurat II, meminta bantuan kepada VOC untuk memadamkan perlawanan Trunojoyo.

Pada September 1677, Perjanjian Jepara disepakati. Salah satu isinya adalah bahwa Sultan Amangkurat II, Raja Mataram, harus mengizinkan VOC mendirikan benteng di pesisir, jika VOC membantu Mataram dalam memadamkan perlawanan Trunojoyo.

Wilayah Semarang—kala itu dieja oleh Belanda sebagai Samarangh—pada 15 Januari 1678 diserahterimakan oleh Amangkurat II kepada VOC. Sejak saat itu, pusat kekuatan VOC berpindah dari Jepara ke Semarang.

Mengenai Trunojoyo, memang VOC membantu. Pasukan VOC bersama aliansinya berhasil mengepung Trunojoyo dan memaksanya menyerah pada 27 Desember 1679 di lereng Gunung Kelud. Pada 2 Januari 1680, Trunojoyo dihukum mati oleh Amangkurat II.

Di Semarang, VOC segera membangun suatu benteng bersudut lima yang dikenal sebagai vijfhoek. Letak benteng itu persis memenuhi suatu kelokan Kali Semarang—saat ini dikenal sebagai kawasan Sleko. Di tempat yang sama, pada salah satu ujung di tepian Kali Semarang, sekarang terdapat sisa-sisa menara syahbandar yang dibangun pemerintah kolonial pada masa industri dan distribusi hasil bumi (abad ke-19 dan ke-20).

Benteng Vijfhoek abad ke-17 itulah yang kelak menjadi cikal bakal kawasan kota lama Semarang. Dalam suatu peta lama yang bertarikh 1695, tampak bahwa di sekeliling Benteng Vijfhoek belum banyak terdapat bangunan maupun permukiman.

Pada 5 Oktober 1705, setelah bertahun-tahun pendudukan, Semarang resmi menjadi kota VOC. Saat itu, Pakubuwono I menandatangani persetujuannya, sebagai ganti dari penghapusan utang Mataram kepada VOC. Sekitar setahun kemudian, pada 1706, benteng ini dikepung oleh lebih dari 3.000 warga keturunan Cina. Namun, serdadu VOC yang dikerahkan berlipat-lipat untuk mengamankan situasi.

 

Lembaran-lembaran Kota Lama Semarang dalam Bingkai Sejarah: Citadel yang Berganti Wajah dalam buklet berjudul Jalur Gula: Kembang Peradaban Kota Semarang. Dicetak untuk kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017 di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang; 10-17 September 2017. Diproduksi oleh BukaPeta untuk Subdit Warisan Budaya Benda Dunia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tulisan kedua dari empat tulisan dalam buklet. Desain buklet: Fredy Susanto.

 

Suatu peta kuno lainnya yang bertarikh 1741 menunjukkan bahwa VOC membangun kota lama Semarang ke arah timur dan tenggara dari Benteng Vijfhoek. Itulah kawasan kota lama Semarang yang masih dapat disaksikan dan hidup hingga kini. Namun, Benteng Vijfhoek pada masa itu kemudian dirobohkan. VOC membangun benteng baru di sekeliling kota, dan diperkirakan selesai sebelum tahun 1756.

Sampai masa itu, Semarang merupakan suatu kota benteng (citadel). Terdapat enam kubu pertahanan atau bastion di sudut-sudut benteng kota. Masing-masing dinamai sebagai bastion De Zee, De Hersteller, Ceylon, Amsterdam, Ijzer, dan bastion De Smits.

Benteng itu didirikan VOC di sekeliling kota sebagai alat perlindungan diri. “Bukan hanya terhadap kemungkinan perlawanan masyarakat pribumi, melainkan juga ancaman dari bangsa-bangsa Eropa lain,” sebut Kriswandhono. Melalui sejumlah literatur masa itu, dapat diketahui bahwa persaingan dagang di Nusantara yang terkadang melibatkan pertempuran senjata, kerap terjadi di antara orang Belanda dan Inggris.

Pada 1824, Pemerintah Hindia Belanda (pengganti VOC yang bangkrut dan ditutup pada 1799) agaknya telah merasa aman. Konsep benteng kota dianggap tidak lagi perlu, dan dirobohkan. Kemungkinan besar, keputusan itu juga dipengaruhi oleh pembangunan jalan raya pos dari Anyer hingga Panarukan (1808-1811) yang diperintahkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Jalan raya tersebut sebenarnya dibangun dengan alasan tambahan: agar pasukan Hindia Belanda bisa bergerak cepat sepanjang pesisir utara Jawa. Oleh para insinyur suruhan Daendels, jalan raya itu disambungkan dengan jalan utama yang membelah kawasan kota lama Semarang, yakni Heerenstraat. Sekarang, jalan itu dinamai Jalan Letjend Soeprapto.

Sejak itulah masa distribusi hasil bumi terjadi dan melibatkan peran penting Semarang sebagai kota pelabuhan. Sedangkan sebagai pengganti benteng kota, penguasa Hindia Belanda mendirikan benteng baru yang besar di sebelah barat dari Kali Semarang. Tepatnya dekat kawasan Poncol.

Dinamai Prins van Oranje, sekarang benteng tersebut lebih dikenal masyarakat sebagai “benteng pendem”. Maklum, setengah konstruksi bangunannya kini terpendam di bawah permukaan tanah. —Reynold Sumayku


Serial tulisan dalam buklet Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Lama Semarang:
01. Gula untuk Peradaban
02. Kota Lama Semarang dalam Bingkai Sejarah: Citadel yang Berganti Wajah
03. Suikerfabriek: Kejayaan Dulu Riwayatmu Kini
04. Pelestarian Kota Lama Semarang: Revitalisasi Separuh Jalan
Peta Sisi A: Kawasan Kota Lama Semarang (beserta konteksnya)
Peta Sisi B: Jalur Kereta Pertama (terkait industri gula zaman kolonial)

Tautan: Situs kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017  |  BukaPeta