Pelestarian Kota Lama Semarang: Revitalisasi Separuh Jalan

Seseorang tidur di bangku taman yang terletak di lorong yang menghubungkan Jalan Kepodang dengan Jalan Letjend Soeprapto. Dalam konteks tujuan wisata, beberapa syarat yang perlu dipenuhi adalah terciptanya perasaan aman bagi pengunjung, kebersihan lingkungan, keindahan, serta kondisi sosial masyarakat yang bersahabat.

 

Pada zaman kolonial Belanda, kawasan kota lama Semarang adalah pusat kegiatan niaga untuk hasil bumi. Saat ini, Semarang secara umum juga tetap merupakan kota perdagangan dan jasa. Namun, khusus kawasan kota lama, pemerintah kota melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) berhasrat menjadikannya sebagai “kota pusaka” pada 2020.

Kawasan kota lama Semarang saat ini masuk ke dalam daftar sementara sebagai Warisan Dunia, yang dipertimbangkan oleh lembaga PBB untuk pendidikan, pengetahuan, dan kebudayaan (UNESCO). Dengan status sebagai warisan budaya bernilai tinggi, pada masa mendatang, kawasan kota lama akan banyak terkait dengan aktivitas pariwisata dan kegiatan budaya. Namun, untuk ke sana terdapat banyak tantangan.

Pada 2007, Pemerintah Kota Semarang membentuk Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L). Fungsinya adalah dalam perencanaan kota dan lingkungan di kawasan kota lama. Dengan menggandeng tangan para praktisi, ahli, dan komunitas terkait, penataan terus dilakukan.

Sejumlah bangunan megah dan cantik zaman kolonial telah diperbaiki dan difungsikan sebagai kafe, restoran, maupun galeri seni. Taman Srigunting yang pada masa Belanda disebut Paradeplein telah disulap menjadi ruang terbuka yang teduh dan nyaman. Bahkan pohon-pohon besar di sana dipasangi lampu berwarna-warni.

Alhasil, kawasan kota lama mulai kembali hidup dan bernuansa cerah. Telah muncul tanda-tanda untuk menjadi salah satu tujuan wisata paling menarik di Semarang.

Teks dan Foto oleh Reynold Sumayku. Dicetak dalam buklet berjudul Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Semarang untuk kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017 di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang; 10-17 September 2017. Diproduksi oleh BukaPeta untuk Subdit Warisan Budaya Benda Dunia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tulisan keempat dari empat tulisan dalam buklet (lihat bagian bawah halaman untuk daftar tulisannya). Diunggah ke situs ini sebagai portofolio.

 

TEKANAN MANUSIA DAN FAKTOR ALAM

Bagaimanapun, masih banyak bangunan bersejarah lain yang belum tersentuh revitalisasi. Kondisinya beragam. Ada yang sekadar dibiarkan kosong, tidak terurus. Ada yang rusak berat dan nyaris runtuh.

Selain itu, ruas jalan utama yang membelah kawasan ini, Jalan Letjend Soeprapto, terlalu ramai oleh kendaraan. Dinas Perhubungan Kota Semarang telah memasang rambu-rambu, agar kendaraan besar dengan sumbu dua ton tidak melintas di kota lama. Namun, menurut pengamatan, di jalan itu tidak terdapat jalur khusus pejalan kaki bagi wisatawan.

Terdapat wacana agar kendaraan bermotor sama sekali tidak melewati jalan tersebut, bahkan di kawasan kota lama secara keseluruhan. Hal ini juga terkait dengan pemikiran untuk menciptakan kawasan bebas polusi. “Masih coba kami rumuskan formulanya,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi kepada media belum lama berselang. “Setelah dapat rumusan yang tepat baru bisa bicara.”

Menurut banyak pihak, pekerjaan ini memang belum selesai. Baru menjelang separuh jalan. Namun, tidak hanya itu. Albertus Kriswandhono, pegiat pelestarian yang juga peneliti arsitektur sejarah dan pengajar di Unika Soegijapranata, menyebutkan pentingnya revitalisasi yang dibarengi pencarian nilai-nilai berharga.

 

Lantai dasar menara mercusuar Willem III hampir selalu tergenang air laut. Problem itu telah lama terjadi di Semarang (foto kiri). Banjir rob yang dibarengi penurunan permukaan tanah mengakibatkan sejumlah kawasan dekat pesisir menjadi rawa atau kolam permanen. Begitu pula yang menimpa area pergudangan di tepi Kali Baru ini (foto kanan).
Para ahli mengatakan bahwa upaya pelestarian kawasan kota lama Semarang sebaiknya juga sekaligus dengan melestarikan wilayah-wilayah lain yang terkait dalam jalinan konteksnya.

 

“Apakah semua rangkaian peradaban masa silam itu memiliki nilai penting dalam konteks masa sekarang? Ini yang terus kami gali bersama-sama pemangku kepentingan yang lain,” jelasnya. Menurutnya, nilai-nilai signifikan itu meliputi ruang dan isi. Ruangnya tentu kawasan kota lama Semarang. “Isinya bisa berbagai macam. Apakah terkait filosofi saat pembangunannya, teknologinya, juga berbagai bentuk tinggalannya,” papar Kriswandhono yang juga penasihat BPK2L.

Nilai-nilai filosofi adalah bagaimana Semarang sebagai kota pelabuhan, perdagangan, dan jasa bisa muncul. Kemudian, nilai teknologi misalnya dapat dipelajari dari rancang kota, arsitekturnya, serta infrastruktur lain yang terkait—sebut saja jalur kereta api. Untuk mengidentifikasi nilai-nilai penting itu dibutuhkan kajian lintas ilmu. “Singkatnya, hasil dari suatu memori kolektif,” sebut Kriswandhono.

Ancaman terhadap kawasan kota lama Semarang datang dari faktor alam dan faktor manusia. Untuk faktor alam, pembangunan dua kanal banjir oleh Belanda merupakan petunjuk: sejak dahulu, Kota Semarang langganan banjir. Nasib stasiun-stasiun kereta pertama di kawasan Kemijen atau Tambaksari pun serupa. Semua terdampak rob (banjir akibat air pasang dari laut).

Kolam retensi atau polder di depan Stasiun Tawang belum cukup. Kali Semarang pun masih penuh lumpur. Menurut catatan, kali yang diseberangi Jembatan Mberok itu direncanakan bakal mengalami revitalisasi pula. Bahkan akan dihidupkan kembali, agar dapat dilayari perahu wisata.

“Memang masih terus dikerjakan soal air itu. Saat ini juga ada fenomena pemanasan global, kenaikan permukaan air laut, dan penurunan permukaan tanah,” ucap Albertus Kriswandhono. Menurut data tahun 2016, penurunan permukaan tanah di dalam dan di sekitar kawasan kota lama Semarang bervariasi—mulai dari dua sentimeter hingga delapan sentimeter per tahun.

 

Lembaran-lembaran Pelestarian Kota Lama Semarang: Revitalisasi Separuh Jalan dalam buklet berjudul Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Semarang. Dicetak untuk kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017 di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang; 10-17 September 2017. Diproduksi oleh BukaPeta untuk Subdit Warisan Budaya Benda Dunia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tulisan keempat dari empat tulisan dalam buklet. Desain buklet: Fredy Susanto.

 

Dari faktor manusia, tantangannya antara lain berupa laju pertumbuhan penduduk, munculnya kawasan permukiman kumuh, serta alih fungsi bangunan secara keliru. Pemerintah kota, melalui Satpol PP, menertibkan pedagang kaki lima di kawasan kota lama Semarang. Misalnya di Jalan Kepodang dan Jalan Merak. Bagaimanapun, berdasarkan pengamatan terakhir, situasi yang berkesan kumuh kembali terlihat. Terutama di bagian depan bangunan-bangunan tua yang tak digunakan dan tak terawat. “Kondisi sosial masyarakat memang harus ditingkatkan juga,” tegas Kriswandhono.

Aneka permasalahan dan tantangan ini perlu diidentifikasi lebih dalam. “Dengan begitu, bisa ditangani bersama-sama. Paling tidak secara normatif ada kemauan bersama. Detailnya biar diurus oleh anak-anak muda dan ahlinya. Hasil kajian itu diharapkan bakal mengarah kepada penyusunan rencana aksi,” katanya. Ia memberikan kalimat kunci. “Untuk pelestarian kawasan memang harus bekerja sama, bersama-sama. Kemudian, dibutuhkan dirigen yang baik. Dalam hal ini, dirigen adalah pemerintah Kota Semarang,” ucap Kriswandhono.

 

PERLU DISELIDIKI LAGI

Sementara itu, terdapat kebutuhan lain yang juga dirasakan penting. Kaitan antara sebagian gedung di kawasan kota lama Semarang dengan industri gula zaman kolonial perlu terus dikaji lagi.

“Ada bangunan-bangunan bagus, namun kaitannya dengan (industri) gula masih harus dibuktikan. Misalnya, diketahui itu dahulu kantor asuransi, jadi harus dibuktikan hubungannya dengan perdagangan gula,” kata seorang ahli dan praktisi lainnya, Krisprantono.

Menurutnya, teks-teks atau berkas dari zaman kolonial perlu dipelajari lagi. “Perlu dibuktikan keasliannya. Jadi, masyarakat pun yakin. Beberapa gedung bahkan ada yang naskah-naskah pendukungnya belum ketemu. Perlu diselidiki hubungannya dengan industri gula,” imbuhnya lagi.

Salah satu gedung yang dimaksud oleh Krisprantono tampaknya adalah eks Nederlandsch-Indisch Lijfrente Maatschappij (Nillmij), suatu perusahaan asuransi. Gedung megah itu dirancang oleh Thomas Karsten dan berdiri mulai 1916. Sekarang difungsikan sebagai kantor perusahaan asuransi Jiwasraya.

Menurut Krisprantono, kawasan kota lama Semarang adalah lahan kajian yang bagus tentang lanskap perkotaan bersejarah. Dalam kacamata ini, jika ada bangunan baru hendak dibangun di kawasan itu, harus disesuaikan pula dengan sekelilingnya. Ini topik arsitektur yang spesifik.

Persoalannya, bagaimana supaya kota lama bisa bertahan dengan tidak terlalu banyak perubahan. Bagaimanapun, fungsi gedung tua dan bersejarah tentu bisa saja berubah, menyesuaikan dengan kondisi zaman. Misalnya sekarang menjadi kafe, galeri, dan lain-lain. Bisa pula ada tambahan sesuai kebutuhan zaman sekarang, misalnya kamar mandi. Namun, bagian-bagian inti bangunan harus dikembalikan ke aslinya.

“Dari sudut arsitektur dan filosofinya, yang ideal adalah revitalisasi menuju bentuk yang sedekat mungkin dengan kondisi asli. Termasuk detail bahan-bahan material yang digunakan. Bukan persoalan sederhana,” paparnya lagi.

 

Salah satu gedung tertua di kawasan kota lama Semarang, eks pengadilan tinggi zaman kolonial, yang masih terpelihara dengan baik dalam kondisi mendekati aslinya. Kini digunakan sebagai restoran.

 

Mengenai nilai-nilai penting yang dapat digali, menurut Krisprantono ada banyak. Misalnya dari teknologi arsitektur. “Kok bisa sedemikian indahnya gedung-gedung itu dibangun melalui pengetahuan arsitektur pada masa itu,” ucapnya sambil menunjuk gedung yang kini digunakan oleh Restoran Ikan Bakar Cianjur.

Menurutnya, itu adalah salah satu gedung tertua di kawasan kota lama Semarang, namun direvitalisasi dengan baik. Dulunya itu gedung Landgerecht atau pengadilan tinggi,” sebutnya. Gedung itu dibangun pada abad ke-18 namun saat ini kondisinya sangat baik dan mendekati aslinya.

Ketika ditanya apakah bangunan-bangunan di kota lama Semarang berstatus cagar budaya, kali ini jawaban menarik diperoleh dari Kris yang lain, yakni Kriswandhono: “Undang-undangnya keluar agak terlambat sehingga banyak bangunan bersejarah yang tidak terselamatkan. Tapi persoalannya bukan selembar kertas. Status cagar budaya sebenarnya ‘kan selembar kertas,” katanya.

“Yang lebih penting adalah pola pikir masyarakat. Kalau bangunan bersejarah, seharusnya dilindungi. Cara berpikir seperti inilah yang juga perlu kita tingkatkan,” tegas Kriswandhono.

—Reynold Sumayku


Serial tulisan dalam buklet Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Lama Semarang:
01. Gula untuk Peradaban
02. Kota Lama Semarang dalam Bingkai Sejarah: Citadel yang Berganti Wajah
03. Suikerfabriek: Kejayaan Dulu Riwayatmu Kini
04. Pelestarian Kota Lama Semarang: Revitalisasi Separuh Jalan
Peta Sisi A: Kawasan Kota Lama Semarang (beserta konteksnya)
Peta Sisi B: Jalur Kereta Pertama (terkait industri gula zaman kolonial)

Tautan: Situs kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017  |  BukaPeta