Press "Enter" to skip to content

Pusat Konservasi Gajah Sumatra

Pusat Konservasi Gajah Sumatra (Sumatran Elephant Conservation Center) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, awalnya diperuntukkan sebagai “sekolah gajah” untuk menjinakkan dan melatih gajah-gajah liar.

Sekolah itu dahulu lebih digunakan untuk menyiapkan gajah-gajah liar agar dapat melayani berbagai kebutuhan manusia: untuk pertunjukan “sirkus”, pengangkut beban, dan sebagainya. Namun, kini, sekolah tersebut menyandang misi lebih mulia, yakni sebagai pusat upaya-upaya penyelamatan subspesies gajah Sumatra (Elephas maximus ssp. sumatranus) yang habitatnya terus dan terus berkurang.

 

Oleh Reynold Sumayku untuk majalah digital Jelajah.id (tautan tidak lagi berfungsi)

 

Dalam 25 tahun terakhir, sekitar 70 persen habitat satwa malang ini diambil alih oleh permukiman manusia dan perkebunan sawit. Akibat habitatnya semakin sempit, gajah Sumatra kerap masuk ke dalam konflik dengan permukiman manusia.

Banyak jalur pencarian pakan dan jalur perjalanan gajah pada masa lalu sekarang telah menjadi bagian peradaban manusia. Suatu hal yang tak dipahami oleh satwa yang sebenarnya tergolong cerdas ini.

Jalur yang mereka lewati ketika masih kecil, cenderung mereka lewati lagi saat dewasa. Jalur itu sebagian besar telah dihuni manusia. Manusianya protes, gajah terjepit. Terjebak. Satwa tak pernah mungkin diharuskan untuk mengerti batas-batas kawasan yang ditetapkan manusia.

Ketika konflik terjadi, unit-unit dari Pusat Konservasi Gajah dikerahkan. Gajah-gajah yang telah dilatih ini berusaha menghalau gajah-gajah liar untuk kembali masuk hutan. Kembali masuk taman nasional.

Sebagai balasannya, mereka mendapat sekadar ucapan terima kasih, atau tak jarang justru cibiran dari masyarakat yang ladang dan propertinya telanjur rusak.

Terkait: Galeri Foto & Video
error: tidak diizinkan menyalin