Suikerfabriek: Kejayaan Dulu Riwayatmu Kini

Pada 1799, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie alias perusahaan dagang Belanda di Hindia Timur) ditutup oleh Kerajaan Belanda. Penyebabnya: bangkrut.

Sejak saat itu, pengelolaan wilayah kolonial di Hindia Belanda, termasuk Pulau Jawa, langsung dipegang oleh Kerajaan Belanda melalui gubernur jenderal. Namun, sejak 1825 hingga 1830, Perang Jawa meletus. Perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro itu semakin menguras anggaran pemerintah Hindia Belanda.

Teks dan Foto oleh Reynold Sumayku. Dicetak dalam buklet berjudul Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Semarang untuk kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017 di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang; 10-17 September 2017. Diproduksi oleh BukaPeta untuk Subdit Warisan Budaya Benda Dunia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tulisan ketiga dari empat tulisan dalam buklet (lihat bagian bawah halaman untuk daftar tulisannya). Diunggah ke situs ini sebagai portofolio.

Sebelum dan setelah Perang Jawa, mereka juga menghabiskan dana untuk mengatasi perlawanan di Sumatra Barat yang dikenal sebagai Perang Padri. Di dalam negerinya sendiri, Belanda juga harus mengongkosi penyelesaian Revolusi Belgia (1830-1831). Revolusi itu berujung pada berdi­rinya Belgia sebagai negeri merdeka yang terpisah dari Kerajaan Belanda Bersatu.

Di Jawa, pusat kekuasaan Hindia Belanda, tugas untuk menyehatkan kembali kas pemerintah jatuh ke pundak Johannes van den Bosch, gubernur jenderal yang mulai bertugas pada 1830. Selama tiga tahun masa administrasinya (hingga 1833), Van Den Bosch memulai kebijakan cultuurstelsel atau yang dikenang oleh masyarakat Indonesia sebagai zaman tanam paksa. Pada masa itu, sekitar 20 persen lahan milik penduduk wajib ditanami dengan sejumlah tanaman bernilai ekonomi. Jenisnya ditentukan.

Pada dasarnya, sebagian besar hasil bumi dari lahan petani diserahkan seperti mekanisme pajak. Melalui monopoli ini, pemerintah kolonial mendapatkan produk-produk agrikultur bernilai ekonomi tinggi untuk dipasarkan ke mancanegara. Tanaman andalan pada masa itu antara lain tembakau, karet, kina, kopi, indigo (tanaman untuk pewarna tekstil), teh, kayu manis, kakao, dan kemudian terutama tebu—bahan baku gula.

Cultuurstelsel adalah penjajahan melalui bupati-bupati,” demikian istilah Krisprantono, pegiat pelestarian kota lama Semarang, konsultan pariwisata sejarah, sekaligus ahli arsitektur dan pengajar di Unika Soegijapranata. “Tekanan kepada petani dan pemilik lahan masa itu dilakukan melalui para penguasa lokal. Berbagai catatan menunjukkan, mereka tak kalah menekan petani dibanding pemerintah kolonial,” tambahnya.

Penguasa-penguasa lokal pada masa itu menerima keuntungan dari tanam paksa, sehingga semakin terlibat dalam sistem yang merugikan penduduk. Para “pengawas” inilah kepanjangan tangan pemerintah kolonial di desa-desa.

“Pada kenyataannya, rakyat menyerahkan lebih banyak dibanding yang ditentukan oleh penguasa kolonial, karena permainan di antara penguasa-penguasa lokal ini,” kata Krisprantono.

Seandainya ada seorang petani atau pemilik lahan tidak bersedia mengikuti aturan tanam paksa, ia wajib bekerja selama 60 hari dalam setahun, di perkebunan milik pemerintah kolonial. Karena pengawasan ketat, akhirnya para penduduk tidak bisa leluasa bepergian ke luar dari kampungnya tanpa izin.

Pulau Jawa, salah satu pulau yang dilukiskan tersubur di dunia sekaligus pusat tanam paksa, tak ubahnya suatu perkebunan raksasa. Mutlak dikendalikan oleh penguasa kolonial Belanda. Sejak tanam paksa diterapkan pada 1830, ekspor pemerintah kolonial Belanda ke pasar dunia meningkat tajam. Hanya dalam beberapa tahun, utang-utang dari masa VOC berhasil dibayar. Selanjutnya tinggal menangguk laba.

Tekanan dan penderitaan penduduk demikian hebat sehingga diduga turut menyebabkan bencana kelaparan dan epidemi pada tahun 1840-an di Cirebon dan Jawa bagian tengah. Maklum, tanaman-tanaman yang bernilai ekonomi tinggi itu telah mengambil alih lahan pertanian pangan. Lahan padi berkurang. Konsentrasi dan tenaga petani pun terpaksa lebih diarahkan kepada tanaman wajib.

 

Lembaran-lembaran Suikerfabriek: Kejayaan Dulu Riwayatmu Kini dalam buklet berjudul Jalur Gula: Kembang Peradaban Kota Semarang. Dicetak untuk kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017 di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang; 10-17 September 2017. Diproduksi oleh BukaPeta untuk Subdit Warisan Budaya Benda Dunia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tulisan ketiga dari empat tulisan dalam buklet. Desain buklet: Fredy Susanto.

 

ERA PERKEBUNAN SWASTA

Untuk memaksimalkan keuntungan, terdapat satu strategi lain yang diluncurkan oleh Van Den Bosch: pembuatan koin sebagai alat tukar.

Menurut Henry Scott Boys dalam buku berjudul Some Notes on Java and its Administration by the Dutch (1892), dana yang digalang di Belanda untuk memulai sistem tanam paksa menghasilkan efek dua kali lipatnya, berkat koin itu. “Nilai intrinsiknya tidak sampai setengah dari nilai nominalnya. Koin-koin ini dijadikan alat tukar kepada petani atau pembudidaya,” catat Henry. Ia mengunjungi Jawa pada 1889 dalam perjalanannya dari Sydney menuju Hongkong, dengan tujuan akhir Inggris. Henry tidak sekadar melihat-lihat untuk melancong. Ia mencatat banyak hal dari yang ia lihat dan ketahui selama berada di Jawa.

“Pokok inilah yang disebutkan dalam Max Havelaar,” catat Henry. Max Havelaar adalah buku yang ditulis Multatuli, nama samaran dari Eduard Douwes Dekker, dan terbit pertama kali pada 1860. Buku itu mengkritik perlakuan pemerintahan kolonial Belanda kepada penduduk, terutama dalam sistem tanam paksa.

Disebut-sebut bahwa buku tersebut termasuk yang melatar-belakangi pemberhentian cultuurstelsel pada 1870. Catat Henry, “Pemerintah (kolonial) Belanda memperoleh keuntungan bersih lima juta sterling, dan ini suatu alasan yang sangat kuat untuk bungkam (dari kritik).”

Sejak 1870, penguasa kolonial Belanda membuka kemungkinan swastanisasi perkebunan melalui Agrarische Wet. Sejak inilah, industri gula berkembang dan melambung ke pasar dunia. Henry mencatat, produksi kopi di Jawa selama 10 tahun (1868-1878) adalah 52.000 ton per tahun. Gula berlipat-lipat lagi: 207.000 ton per tahun.

 

Slideshow pabrik gula Tasikmadu dalam hitam putih. Versi komplet dapat dilihat di sini.

 

NILAI DARI PENGALAMAN BURUK DAN BAIK

Di masa kolonial, sebelum krisis ekonomi dunia pada 1930, terdapat 202 suikerfabriek (pabrik gula) di seantero Pulau Jawa.

“Itu baru pabriknya. Wilayah perkebunan tebu pada masa itu tentu jauh lebih luas lagi. Gula adalah potensi lokal yang (pernah) mengglobal. Ilmu pengetahuan bangsa kolonial pada masa itu telah membuat wilayah kita menjadi produsen yang besar,” sebut Krisprantono.

Berkaca pada masa kejayaan gula itu, menurutnya ada nilai-nilai penting yang dapat ditarik sebagai pelajaran untuk masa sekarang. Bahkan dari masa tanam paksa yang kejam itu sekalipun. Di antaranya, “Kesuburan tanah dan iklim. Betapa suburnya tanah di Pulau Jawa. Sebagai bangsa, Indonesia juga negara agraris yang subur, namun sekarang kita tidak memanfaatkan itu dengan seharusnya,” papar dia.

Kemudian, dari orang-orang seperti Mangkunegara IV dan Oei Tiong Ham ada pula nilai-nilai penting yang dapat dipelajari. Mereka mampu melihat peluang, berani bernegosiasi dengan penguasa kolonial, dan berani bersaing dalam perdagangan global.

Sejak 1930 hingga masa kemerdekaan, kenyataannya jumlah pabrik gula menurun terus. Eka Christina, staf PG Tasikmadu, membenarkannya. “Sejak krisis moneter 1998 memang sudah dilakukan penggabungan-penggabungan. Saat ini tinggal delapan pabrik gula yang beroperasi di wilayah PTPN IX,” jelasnya. Wilayah kerja PTPN IX meliputi Provinsi Jawa Tengah.

Antara 2007-2008, Pabrik Gula (PG) Cepiring dan Colomadu sempat “dibangunkan kembali” namun hanya untuk mengolah raw sugar menjadi gula. “Pengolahan raw sugar itu pengolahan gula yang tidak dari awal, tidak dari tebu, melainkan suatu proses yang bermula dari tengah. Ya, pada akhirnya memang menjadi gula juga,” jelasnya.

Kendati demikian, pada akhirnya pabrik-pabrik gula yang mengolah raw sugar menjadi gula pun terpaksa ditutup. Sebabnya sederhana: “Raw sugar itu bahan baku impor, tetapi kemudian impornya dihentikan,” ucap Christina.

Saat ini, menurut Christina, pabrik gula tidak lagi memiliki perkebunan sendiri. “Pabrik hanya menyewa lahan untuk ditanami tebu. Selebihnya adalah tebu milik petani,” katanya. Adapun hasil pengolahan gula akan dibagi antara pabrik dan petani. Hitungan bagi hasilnya: 34 persen untuk pabrik gula, 66 persen untuk petani.

“Yang untuk pabrik sebenarnya merupakan biaya pengolahan,” lanjut Christina. Produk gula jatah pabrik dijual dengan cara lelang oleh kantor pusat PTPN IX di Surakarta. Sedangkan dari gula jatah petani biasanya 90 persen yang dilelang. “Sepuluh persen lainnya diserahkan ke petani secara natura,” ucap Christina, “kemudian ditangani oleh asosiasi pengusaha tebu rakyat untuk pelelangan maupun penjualannya.”

 

Pabrik gula Tasikmadu, Karanganyar. Sekitar 20 persen mesin dan peralatan pabrik ini merupakan warisan zaman kolonial. Harga gula yang tidak menentu, berkurangnya lahan tebu, dan persaingan dengan gula impor hasil teknologi tinggi mengakibatkan pabrik gula Indonesia sulit untuk bertahan. Walyanto dan Purnomo dari Bagian Tanaman di pabrik itu menyebutkan, pabrik gula idealnya juga mengelola lahan perkebunan yang luas disertai riset varietas. Saat ini pabrik hanya mengelola lahan sewaan, dan luasnya kurang. Tebu banyak berasal dari petani, yang terus berkurang minatnya. Foto-foto oleh Reynold Sumayku.

 

INDUSTRI BIAYA TINGGI

Secara keseluruhan, industri gula Indonesia saat ini dalam keadaan sulit. Dari yang tadinya salah satu produsen terbesar di masa kolonial, saat ini justru mengimpor.

Beberapa masalah yang tampak dalam beberapa tahun terakhir adalah harga gula yang tidak menentu, peralatan yang kurang modern, menyusutnya lahan tebu, dan menurunnya minat petani untuk bertanam tebu. Belum lagi persaingan dengan gula impor dalam mekanisme pasar bebas.

Dalam setahun, tanaman tebu hanya panen sekali. Bandingkan dengan padi yang panen dua-tiga kali setahun. Demikian pula palawija lainnya.

“Biaya produksi tebu kita pun tinggi. Belum bisa untuk profit. Sebatas bertahan hidup saja. Kita kurang pintar mengelola diri sendiri. Padahal alam dan orangnya pintar-pintar,” kata Christina.

Staf PG Tasikmadu lainnya, yakni Agung Bhakti dari Bagian Instalasi, mengungkapkan sekitar 80 persen mesin di PG Tasikmadu sudah diperbarui. Namun, sisanya yakni 20 persen adalah warisan zaman kolonial.

“Untuk kebutuhan dalam negeri pun produksi kita belum mencukupi. Pabrik gula membutuhkan percepatan teknologi dan bantuan pemerintah dalam kebijakan,” kata Agung. Ia menambahkan, “Namun, permesinan pun tidak mudah, misalnya di kebun yang sekarang kondisinya tidak luas dan terpisah-pisah. Sulit (untuk perawatan maupun panen) menggunakan mesin. Kalau pun pakai mesin, ironis juga karena jumlah penduduk kita besar dan butuh pekerjaan.”

Terdapat satu ungkapan menarik lagi dari Agung. Hal ini terkait mesin-mesin pabrik gula yang buatan zaman kolonial namun masih tetap digunakan hingga sekarang. “Artinya apa sebenarnya? Kita ini bangsa yang pandai merawat atau bangsa yang tidak mampu membuat mesin baru?,” tanya dia tanpa mencari jawaban.

Dari cerita dan pemaparan para pemerhati, ilmuwan, maupun praktisi industri masa sekarang; sebenarnya terdapat benang merah. Dengan mengetahui jejak kejayaan produksi hasil bumi masa kolonial, beserta jaringan distribusinya, pembangunan kotanya, kita mendapat cermin dan bahan pembelajaran menuju masa depan.

“Tapi kita semakin konsumtif. Orang zaman dulu malu makan di luar—kesannya di rumah tidak ada makanan. Sekarang kita bangga makan di luar. Makin mahal makin bangga. Hal lain, minat generasi muda untuk jadi petani kian tipis,” kata Agung.

—Reynold Sumayku


Serial tulisan dalam buklet Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Lama Semarang:
01. Gula untuk Peradaban
02. Kota Lama Semarang dalam Bingkai Sejarah: Citadel yang Berganti Wajah
03. Suikerfabriek: Kejayaan Dulu Riwayatmu Kini
04. Pelestarian Kota Lama Semarang: Revitalisasi Separuh Jalan
Peta Sisi A: Kawasan Kota Lama Semarang (beserta konteksnya)
Peta Sisi B: Jalur Kereta Pertama (terkait industri gula zaman kolonial)

Tautan: Situs kegiatan World Heritage Camp Indonesia 2017  |  BukaPeta